Sabtu, 18 Oktober 2008

Cinta

Sebab Cinta Memang Harus Diupayakan

1. Menikah dengan orang yang kau cintai
2. Mencintai orang yang kau nikahi

Mana yang kau pilih ?
Pilihan kedua...kenapa ?
Sebab jodoh adalah hal yang pasti meski masih menjadi misteri bagi orang-orang yang belum menemukannya. Sedangkan mencintai adalah hal yang berbeda. Mencintai seseorang saat belum ada hak atasnya, bagaikan menggenggam bara.
Jika Allah berkenan menjadikannya pendamping seumur hidup maka bara itu akan menjelma menjadi energi untuk menciptakan kebersamaan yang indah. Tetapi, jika Allah tidak berkenan mempersatukan, bara itu akan membakar dan bisa jadi menghanguskan diri sendiri.
Lebih dari itu, pilihan kedua rasanya lebih aman dari berbagai penyakit hati, yang bisa jadi mengotori niat suci menikah karena Allah
Itu jawaban saat itu, tapi beberapa jarak setelah itu Anda mungkin termenung, mencoba berfikir lebih dalam dan menyelami jauh ke dalam lubuk hati. Kemudian jawaban itu menjadi ragu, benarkah begitu ?
Pilihan Pertama, menikah dengan orang yang saya cintai mengalirkan energi dan semangat untuk meraih sesuatu yang menjadi dambaan hati. Dan tentu hal yang sangat menyenangkan bisa berdampingan dengan orang yang dicintai, tidak ragu mengumumkannya kepada public, tidak malu mengekspresikannya sebab cinta itu sudah dilegalkan.
Pilihan Kedua, mencintai orang yang saya nikahi..hmmm pasrah, menerima nasib, ah tidak, saya menerjemahkannya menjadi bentuk syukur padaNYA. Sebab ada yang Allah telah pilihkan kita, tentu itulah yang terbaik maka kenapa tidak memaknai rasa syukur itu dengan mengupayakan cinta, menumbuhkan dan merawatnya. Bukankah, jika saat ini saya mencintai seseorang (padahal belum ada hak saya atasnya), itu tidak tumbuh begitu saja ? Ada masa-masa, ada hal-hal, ada peristiwa yang membuat saya mencintainya. Lalu kenapa hal-hal itu tidak bisa ditumbuhkan kepada orang yang sudah Allah pilihkan untuk saya ? tetapi sekali lagi betapa menyenangkan jika pertamalah yang menjadi pilihan. Menikah dengan orang yang saya cintai seperti Fatimah dengan Ali sebagaimana Khadijah menikah dengan Muhammad .
Tetapi kalaupun akhirnya Allah memilihkan oranglain maka pilihan keduapun bukan hal yang tidak menyenangkan tidak ada yang tidak mungkin, sebab cinta memang harus diupayakan...
Bagaimana dengan Anda ? Apakah akan menikah dengan orang yang Anda cintai atau akan mencintai orang yang Anda nikahi...
Dialog hati berakhir...Aku ingin mewujudkan pilihan pertama tetapi Allah tak berkenan, semoga Ia memberi energi untuk mengupayakan pilihan kedua..Sebenarnya itu semua cuma pilihan. Sebab hasilnya Allah tentukan. Bahkan Allah akan menggiring kita hingga memilih pilihan sesuai yang Allah mau. Bingung ? ga usah bingung Allah maha segalanya kok ) Semuanya mungkin bagi Allah..siapa yang bisa menjamin pilihan pertama adalah yang terbaik ? Lalu siapapula yang menjamin kalo pilihan kedua adalah pilihan cadangan ? Sama seperti ketika kita memilih sekolah.
So, coba dikiaskan dengan yang lain, agar terbuka pikiran kita dan makin mudah bagi kita mensyukuri apa yang sudah Allah bagi untuk kita.
From : Annida Magazine

Wallahu A'lam

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum..

Kak Piaw...hmmm...dr blog "Cinta" ini,kyknya aku pilih yang kedua deh. Coz pengalaman aku bgt. Emang sih blom ke arah menikah. Tp aku juga kan berusaha mencintai orang yang memacariku...hahahaha. Ternyata mencintai orang itu gak semudah kita jatuh cinta. Butuh proses. Seringnya kebersamaan,bisa timbul rasa sayang,lho. Mungkin itu juga yang bikin kita mencintai orang yang kau nikahi. Kak Piaw nanya ke aku bgmn mencintai orang yang menyapa kita dgn cinta? cukup dengan belajar dan memberikan kesempatan spy kita pun bisa mencintainya dgn tulus.. hehehe...