Kamis, 16 Oktober 2008

Pentingnya Gizi bagi Balita

Perangi Gizi Buruk Balita!

Jutaan anak Indonesia rentan terkena gizi buruk dan gizi kurang, khususnya anak di bawah usia tiga tahun (batita). Usia yang relatif singkat, namun sarat dengan proses pertumbuhan.
Kondisi itu terjadi karena kurangnya asupan pangan hewani maupun nabati, yang menjadi penentu bagi pertumbuhan balita. Kekurangan asupan gizi itu akan mengganggu perkembangan fisik maupun mental anak.
Berdasarkan data 2007, 4 juta balita mengalami gizi kurang dan 700.000 diantaranya adalah penderita gizi buruk.
Padahal, jika anak-anak balita mengalami kekurangan gizi yang berkepanjangan tak hanya mengganggu perkembangan fisik seperti tinggi dan berat badan, tapi juga pada perkembangan otak. Karena faktor itulah, yang menjadi tolok ukur kasus gizi buruk di Indonesia. “Anak usia dua tahun mengalami pertumbuhan berat badan kurang dari 2 kg dan tinggi rata-rata kurang 2 sentimeter dari pertumbuhan bayi normal,” jelas Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof Dr Ali Khomsan. Ini dikarenakan pola makan dan asupan gizi tidak memenuhi kebutuhan. Padahal, pangan hewani atau asupan gizi adalah penentu kecerdasan. Bila kekurangan itu terjadi pada fase tumbuh kembang anak, maka kecerdasan anak tidak akan dapat diperbaiki lagi.
Karena itu, saat menginjak usia setahun, hendaklah anak diperkenalkan dengan beragam makanan keluarga yang diseimbangkan dengan susu. Apalagi susu merupakan sumber gizi terbaik bagi pertumbuhan anak usia balita, yang masih membutuhkan banyak asupan kalsium.(pia)

Banyak Aspek Melatarbelakangi

Jumlah penderita gizi buruk tampaknya akan terus meningkat jika perekonomian bangsa tidak stabil, dimana harga kebutuhan pokok meningkat setiap tahunnya. Akibatnya, sebagian ibu rumah tangga tak mampu menerapkan pola asuh yang baik karena harus mencari uang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, atau tak bisa mendatangi posyandu dan pusat kesehatan lainnya, karena ketidaktahuan atau ketidakmampuan secara ekonomi.
Faktor kesejahteraan ini otomatis berpengaruh terhadap asupan gizi balita. Balita lebih banyak mendapat porsi makanan siap saji dengan asupan energi lebih banyak, sedangkan asupan protein hewani kurang. Ini bisa diatasi, salah satunya dengan mengkonsumsi susu.
Konsumsi susu sangat lamban di Indonesia, yakni dalam 30 tahun baru meningkat 4,68 kg per kapita per tahun dari 1,82 kg per kapita per tahun. Angka ini sangat rendah, bahkan dibandingkan dengan Vietnam atau negara berkembang lainnya. Dikarenakan faktor ekonomi, sebagian keluarga tak mampu membeli makanan bergizi atau susu. Meskipun tak sedikit pula, orangtua dari anak-anak penderita gizi kurang ini tetap menganut kebiasaan merokok. Padahal jika dikalkusikan, uang rokok dalam sehari sama dengan satu liter susu atau tiga setengah butir telur.
Lalu di mana sisi ketidakmampuannya membeli makanan yang bergizi atau susu?
Sementara, program makanan tambahan (PMT) yang dikembangkan pemerintah belum menjangkau semua lapisan. Begitupula akses kesehatan dan pendidikan, yang tidak terjangkau sepenuhnya oleh sebagian masyarakat kecil.
Ditambah, kata mantan Praktisi Kesehatan Rachmat Sentika, dari 250 ribu Posyandu yang ada di Indonesia, sekitar 40 persen sudah tidak aktif. Alhasil, cakupan pengendalian dan pantauan kualitas gizi balita tidak lebih dari 50 persen.
Di sinilah, kata Prof Ali Khomsan, peran Posyandu dalam menerapkan program nutrisi, upaya perbaikan gizi dan program penyuluhan serta PMT perlu ditingkatkan.
Selain menerapkan konsep Posyandu yang memberikan penanganan lengkap dalam mengintervensi kesehatan keluarga, perlu terobosan baru untuk meningkatkan konsumsi protein hewani dan menurunkan angka gizi buruk.(pia)




Kembangkan Warung Pintar di Tiap Desa

Perkembangan jumlah penderita gizi buruk di Indonesia yang tidak pernah menurun, tak sekadar butuh keprihatinan, tapi diperlukan sinergi dari semua pihak. Sehingga image bahwa gangguan gizi buruk adalah urusan kesehatan harus dihilangkan, agar masalah ini bisa cepat tertangani. Peneliti sekaligus dokter di Puslitbang Gizi Bona Simanungkalit mengusulkan agar pemerintah atau siapapun yang peduli dengan kasus gizi buruk membuat program berkala atau kontinyu. Cukup sederhana, dengan membuat sebuah warung yang terdidik secara ekonomi di lokasi atau desa yang memiliki banyak penderita gizi buruk. Nantinya, keberadaan warung itu bisa menyediakan beragam makanan termasuk susu khusus pertumbuhan untuk masyarakat yang memiliki balita secara gratis.
Tak hanya menyediakan makanan yang bergizi, warung itupun dapat memberikan penyuluhan tentang kesehatan, pola pengasuhan, pertanian dan wawasan edukasi lainnya. Agar mereka dapat belajar memasak yang bersih, mengasuh anak yang benar dan membuat makanan bergizi untuk anak.
Tak hanya ada program, warung ini harus melibatkan mahasiswa atau LSM yang diberi insentif. Untuk warga, cukup menyerahkan kupon ketika akan membeli makanan di warung tersebut. Kenapa harus pakai kupon? Nantinya, kupon itu sebagai pertanggungjawaban bagi donatur atau pemerintah. Setelah mapan, warung itu dapat dijadikan pos dalam bentuk koperasi kemudian dana bergulir bagi masyarakat. Jika berkembang dengan baik dan masyarakat di tempat itu mampu mengelolanya, kemudian dilepas dan program warung pintar berpindah ke desa lain. “Cara tersebut lebih nyata dan dirasakan langsung manfaatnya bagi masyarakat karena ada perputaran secara ekonomi. Mudah kok, asalkan ada kontinuitas dari orang yang memiliki dana dan bisa menjadi project percontohan,” ujarnya.(pia)

1 komentar:

Bona Simanungkalit mengatakan...

Wah mantap juga ya udah ada bloggernya, mudah2an berguna bagi mereka yang sangat memerlukannya. Selamat berjuang menolong mereka dan terima kasih sudah membantu saya dalam bidang ini. (Bona)