
Kembangkan Anak Inovatif Sesuai Kepribadian
Dengan metode Myers Briggs Type Indicator (MBTI) yang disampaikan dalam workshop “Kunci Emas Pengembangan Kompetensi Anak”, Unilever mengajak para guru dan orangtua untuk mengembangkan kompetensi anak sesuai dengan tipe kepribadian anak
Setiap anak terlahir dengan keunikan masing-masing. Tidak ada seorang anakpun di dunia ini yang memiliki sifat dan kepribadian yang sama persis. Untuk itu, penting bagi guru dan orang tua mengenal kepribadian anak dalam hal mendidik mereka. Karena dengan mengenal kepribadian anak, baik guru maupun orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik dan cara yang tepat dalam memberikan arahan dan bimbingan pada anak. Tentunya juga akan membantu memudahkan proses belajar mengajar sehingga lebih efektif.
Dengan alasan itulah, PT Unilever Indonesia Tbk, melalui merek makanan ringan andalannya Taro, kembali mengadakan workshop bagi para guru dan orang tua untuk mengembangkan kompetensi anak usia sekolah dasar (6-12 tahun). Salah satunya melalui metode Myers Briggs Type Indicator (MBTI) yakni mengenal lebih jauh kepribadian anak. Workshop yang menghadirkan psikolog anak dari Propotenzia Jakarta, Lina E. Muksin MPsi ini, dilaksanakan di hotel JW Mariott Surabaya.
Brand Manager Taro, Amalia Sarah Santi menuturkan, melalui workshop tersebut Taro mengajak guru dan orang tua untuk lebih memahami dunia anak serta berbagi strategi bagaimana menjadi guru idola untuk mengembangkan kompetensi mereka, salah satunya dengan cara mengenal dan memahami kepribadian anak.
Dengan demikian, guru akan disukai dan disenangi anak, karena anak merasa dihargai dan merasa nyaman belajar. Karena perasaan nyaman tersebut, anak akan mengidolakan gurunya. ”Sosok guru idola inilah yang dapat membantu terwujudnya karakter anak-anak Indonesia yang tangguh, kreatif dan kompetitif. Seperti sosok ibu guru Muslimah dalam film Laskar Pelangi,” ujarnya.
Mengapa memahami dunia anak dan mengenal kepribadian mereka menjadi sangat penting? Sarah menambahkan, anak adalah individu yang unik dan dalam keunikan inilah banyak kompetensi yang bisa diasah secara optimal. ”Baik orang tua maupun guru perlu memahami dunia dan kepribadian anak untuk mengembangkan kompetensi mereka dengan cara yang menarik, menantang yang akhirnya meningkatkan minat mereka. Metode mengajar yang bervariasi inilah yang dibutuhkan anak-anak, dimana bertualang merupakan salah satu alternatifnya,” beber dia.
Bertualang merupakan salah satu aktivitas belajar di mana anak mendapat kesempatan memperoleh hal baru serta mengeksplor lingkungan sekitar. Melalui bertualang anak mendapat peluang untuk mengasah kemampuan diri dengan cara yang berbeda pada setiap anak. Dengan demikian, bertualang, selain aktivitas yang menyenangkan bagi anak, juga menunjang pengembangan pribadi anak.
Menurut Psikolog Lina E Muksin, setiap anak belajar dengan cara yang berbeda. Hasil riset menunjukkan bahwa hasil belajar (prestasi akademik) anak berhubungan erat dengan cara belajar yang berbeda pada setiap anak didik. Dengan pendekatan pengajaran yang berorientasi pada anak, diharapkan guru mampu menyediakan pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan setiap anak didik, sehingga tercipta suasana kegiatan belajar yang menarik, bebas dari kecemasan dan tekanan agar tercapai proses belajar mengajar yang efektif. ”Dengan memahami kebutuhan anak sesuai tipe kepribadiannya, akan membuat seluruh potensi anak berkembang secara optimal. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang guru maupun orang tua untuk memahami dan memperhatikan keunikan setiap anak,” jelas Lina.
Lina menambahkan, metoda pengajaran yang cenderung menyamaratakan anak, artinya guru beranggapan bahwa semua anak memiliki pemahaman yang sama tentang penjelasan materi ajar yang disampaikan. Hal ini dapat merugikan proses belajar itu sendiri, karena semua anak tidak belajar dalam cara dan kecepatan yang sama, sehingga tujuan belajar yakni meningkatkan pengetahuan dan membangun pemahaman mengenai materi yang diberikan tidak optimal.
”Suasana belajar yang kurang kondusif, penuh dengan kecemasan, dengan mengabaikan kebutuhan dari sisi anak didik, pada sebagian anak dapat menyebabkan anak kehilangan motivasi belajar, mogok sekolah maupun masalah psikologis lainnya,” beber Lina.
Oleh karenanya, untuk mengenal dan memahami kepribadian anak, seorang guru memerlukan metode mengajar yang bervariasi, agar suasana belajar menjadi lebih aktif, ada interaksi / timbal balik antara guru dan murid, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan optimal. Dengan cara pengajaran yang bervariasi akan membuat anak termotivasi untuk belajar dan minat mempelajari hal baru pada anak pun meningkat.
Dalam workshop ini Lina menyampaikan metode Myers Briggs Type Indicator, yang mengklasifikasikan kepribadian ke dalam skala preferensi. Setiap anak didik memiliki cara berbeda dalam hal sikap belajar, menyelesaikan tugas-tugas, maupun dalam cara memaknai informasi yang diperoleh dari dari guru atau lingkungan sekitar. Sebagai contoh, anak dengan kecenderungan ekstrovert, ia senang berinteraksi, mudah bergaul dan menyenangi kegiatan beragam, sebaliknya anak dengan ciri introvert, lebih fokus pada satu kegiatan, senang lingkungan yang tenang dan senang belajar sendiri. Seorang anak dengan ciri sensing (pengamat) senang bekerja secara detil dan menyukai hal-hal praktis. Anak dengan tipe intuitive (penghayal) senang dengan tantangan dan hal baru, mereka menyukai kegiatan imajinatif atau berdaya cipta, kreatif dan penuh dengan inspirasi.
Sedangkan anak dengan ciri thinking (pemikir) dalam hal mengambil keputusan lebih menggunakan pemikiran logis, tegas, dan tidak sungkan mengkritik. Di sisi lain anak dengan ciri feelling (perasa), lebih mempertimbangkan orang lain, mereka suka dengan keharmonisan, dan sensitif terhadap kritikan. Pada anak dengan kecenderungan judging (teratur) ditandai dengan ciri-ciri; nyaman dengan keteratuan, terencana, dalam melakukan aktivitas, memiliki target yang harus diselesaikan, sementara bagi anak dengan ciri perceiving (spontan), suka dengan hal-hal baru, banyak ide dan cenderung menunda tugas sekolah.
Selain mengenal dan memahami kepribadian anak, peserta juga mendapatkan strategi lain untuk meningkatkan kemampuan dalam proses pembelajaran, yakni dengan pendekatan konsep multiple intelligent/kecerdasan majemuk, dan strategi 3 H (Head, Heart, dan Hand). Semua ini bertujuan agar terjalin kedekatan anak dengan orang tua maupun hubungan yang lebih baik antara anak didik dengan guru.
”Sebagai brand yang menjadi bagian dari dunia anak, sudah menjadi komitmen Taro untuk membantu anak Indonesia tumbuh dan berkembang sesuai usia, sehingga setiap anak memiliki masa kecil yang menyenangkan dan bermakna. Melalui workshop ini Taro memberikan kunci emas pengembangan kompetensi anak dengan menjadi idola bagi Anak. Oleh karenanya, mari bersama mewujudkan anak Indonesia yang tangguh, kreatif dan kompetitif,” tandas Sarah. (pia/*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar