Nasihat Ibuku Jelang hari 'H' malam sebelum 02102010
Pencariankoe terinspirasi dari buku ini... di bawah ini ada tulisan yang diambil dari buku tersebut..seperti ungkapan hati dan rasakoe saat ini.. sbg pengingat nanti dalam bahtera perjuangan sebenarnya. Amiin..
Dunia ini lautan dari semua kemungkinan dan pilihanku sesungguhnya tak terbatas. Aku memilih untuk mengikuti kebahagiaanku dan akhirnya kebahagiaanlah yang memilih untuk mengikutiku. Aku meraih potensi tertinggi diriku dan aku membiarkan orang-orang untuk meraihnya juga. Aku fokuskan diriku pada kekuatan pikiran dan hatiku dan menggenggam tujuanku sebagai refleksi dari harapan serta mimpi-mimpiku. Aku mendengarkan hati nuraniku dan ia membimbingku pada kebaikan-kebaikan. Aku sangat bersyukur atas anugerah terindah yang sangat aku idam-idamkan selama ini. Dan rasa syukurku terus bertambah seiring bertambahnya kebaikan yang aku terima. Dengan gagah berani aku tetap melangkah dalam perjalanan ini dan hidupku ini adalah inspirasi bagiku. Akulah yang bertanggungjawab pada hidupku dan aku sendiri yang harus berusaha membuat mimpi-mimpiku terwujud. Waktuku telah tiba untuk bersanding dengan lelaki pilihanku. Aku senandungkan perasaanku melalui ayat-ayatNYA. Permintaanku kepadaNYA selama ini sungguh menggunung. Aku bersyukur karena Allah telah hadirkan dia untukku. Sungguh, tak terlintas sebelumnya dia ada dalam pikiran atau mimpi-mimpiku. Dia tiba-tiba saja datang menyapa dan aku katakan 'Ya' untuk sesuatu yang berat tanggung jawabnya. Dari manakah datangnya semua kekuatan ini ? Tak lelah ibuku menasihatiku. semua nasihatnya ternyata memberikan kekuatan baru untukku sehingga aku makin yakin melangkah lebih jauh lagi. Tak henti-hentinya ia membisikkan ke telingaku bahwa aku adalah gadis kecilnya yang hebat. Aku masih ingat kata-katanya. Bersinergi dengan pendampingku kelak dalam mengarungi bahtera rumah tangga menjadi nasihat pertamanya. Banyak bertanya untuk segala hal yang tidak aku pahami menjadi jalan untuk masa depan. Ia pun mengajariku untuk selalu mencari jawab dari semua pertanyaanku. “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS. An-Nahl (16) : 43).Nasihat keduanya untukku adalah agar aku senantiasa jujur dalams etiap urusan. Aku dan pendampingku dituntut untuk jujur dan saling terbuka sejak hari pertama akad nikah diucapkan hingga akhir kehidupan kami. Kejujuran kami akan sangat berarti bagi proses perkembangan anak-anak kami kelak. “ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur),” (QS. At-Taubah (9) : 119).Nasihat ibuku terus berlanjut. Aku tahu pasti nasihatnya banyak sekali karena ia sudah pernah berada di sana, di tempat yang akan aku datangi tak berapa lama lagi. Aku percaya kepadanya bahwa nasihatnya sungguh mulia. Ibuku sangat mewanti-wanti agar aku selalu menjaga rahasia-rahasia kehidupan kami berdua, sekalipun terhadap orang dekat. Dengan demikian, rumah kami nantinya senantiasa dikelilingi pagar kehormatan dan kemuliaan. mataku masih terjaga saat ibuku menyelesaikan nasihat ketiganya. Sungguh, aku tak sabar ingin mendengar nasihat keempatnya karena aku benar-benar membutuhkannya. Tak sungkan ibu mengatakan hal penting lainnya tanpa aku paksa. Ibu sungguh senang saat itu. Ia katakan kepadaku bahwa aku tidak perlu membebani diri dengan hal-hal di luar batas kemampuanku. dengan begitu niscaya aku dan pasanganku dapat menemukan dan merasakan sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi di dalam rumah tangga kami. Aku terus mengangguk dan mengulang-ngulang naishatnya. Tidak cukup mengingatnya saja, aku menuliskannya karena aku takut suatu saat nanti aku lengah, catatanku nantinya dapat aku wariskan kepada putra-putriku, persis seperti yang ibu lakukan kepadaku saat ini. Aku terus meminta kepada ibuku untuk menambahkan kebijaksanaan dalam hidup melalui nasihat kelimanya. Ibuku berkali-kali mengulang kata ini. “sabar, sabar dan sabar,”. Aku diminta sabar dalam persoalan cinta, persoalan hidup, dalam menerima perbedaan dan dalam beramal shaleh. Aku rasa semua nasihat itu belum cukup untuk bekalku. Aku masih merajuk meminta satu nasihat lagi kepadanya. walaupun malam makin menepi, tak tampak kelelahan dari ibuku. Menurut ibuku, aku pun dilarang mudah capek dan menyerah karena masih ada satu kewajiban lagi yang harus aku lakukan nantinya. Aku dan pendampingku harus senantiasa saling menjaga dan melindungi benih-benih cinta yang telah tumbuh dan berkembang dalam hati sanubari dari penyakit-penyakit hati. namun, tidak cukup itu saja, karena ternyata aku pun harus mampu membedakan cinta dan nafsu. Ibuku menghentikan nasihatnya hingga nasihat keenam. Menurutnya, aku masih bisa mendatanginya kapanpun aku mau, bukan saat aku dalam masalah, bukan oula karena aku mengadukan suamiku, melainkan karena aku merindukan kelembutan dan nasihat-nasihatnya. Tak kuasa kubayangkan kelak apakah aku bisa melakukan hal ini bersama putriku. Ya Allah, perkenankanlah aku melalui masa-masa indah seperti ini. Ibuku telah berbuat segalanya demi kebahagiaanku. beberapa hari lagi aku tak lagi menjadi tanggungan ibu dan ayahku. Aku sudah menjadi tanggungan suamiku. Tak sabar rasanya menjalani tanggung jawab yang satu ini. Aku merasa tertantang. Dengan doa orangtuaku, aku mulai melangkah . Aku menyelamati diriku. Selamat, aku benar-benar layak mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aku impikan. Terima kasih karena aku masih diberi kesempatan untuk merasakan cinta dan kebersamaan. Tidak banyak yang bisa aku lakukan. Mungkin belum banyak, karena aku yakin kehadiranmu di sisiku dapat menyempurnakannya. Sampai jumpa nanti 'Suamiku'.
Kamis, 01 Maret 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
