Tiga Langkah Pisahkan Emosi dari Pekerjaan
BERSIKAP profesional saat bekerja memang tidak mudah. Tidak jarang, emosi yang disebabkan permasalahan di luar maupun di dalam pekerjaan ikut terlibat. Itu membuat seseorang tidak bisa menjalankan pekerjaan secara baik dan benar. Meski tidak mudah, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga agar tetap bisa bekerja secara profesional, meski emosi sedang tidak stabil.
Menurut dra Hartanti Msi Psi, kemampuan kognitif atau pola pikir dan emosi seseorang saling mempengaruhi. "Misalnya, seorang bawahan yang dimarahi atasan. Secara kognitif, dia tahu kalau dimarahi, emosinya terpengaruh hingga meledak-ledak, misalnya. Sedangkan, orang yang diputus pacar terguncang secara emosi, tapi kognitifnya bisa ikut terpengaruh. Dia jadi tidak bisa konsentrasi," jelasnya.
Mengusahakan agar keduanya tidak saling memengaruhi bukan hal yang mudah. Tapi, ada beberapa tahap yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah fokus pada pekerjaan. Usahakan berkonsentrasi penuh pada pekerjaan yang dilakukan. "Misalnya, seorang psikolog yang menerapi anaknya sendiri. Dia harus fokus pada pekerjaannya, bukan anaknya," jelas dosen psikologi klinik Universitas Surabaya (Ubaya) itu.
Yang kedua adalah self awareness atau kesadaran diri. Maksudnya, orang tersebut harus sadar sepenuhnya bahwa dia sedang menjalankan tugas. Karena itu, dia harus bisa mengontrol diri agar tidak mudah terpengaruh emosi. Yang berikutnya adalah self acceptance atau penerimaan diri. Artinya, orang tersebut harus menerima kenyataan bahwa yang dia hadapi adalah risiko pekerjaan.
Tiga langkah itu bisa diperkuat dengan menganalisis kekuatan dan kelemahan diri sendiri. "Coba tulis apa saja kelebihan dan kelemahan kita. Lalu, bayangkan kelebihan itu adalah buah dan kelemahan adalah ulat. Cari cara untuk memperbanyak buah dan mengurangi ulat agar pohon, yakni diri kita, semakin kuat," lanjut perempuan yang sering disapa Tanti itu.
Hal itu bisa dilakukan dengan melibatkan lingkungan sebagai alat untuk mengingatkan. Tapi agar tidak bergantung pada lingkungan, diri sendiri juga harus terus-menerus disugesti. Tanti lalu memberikan contoh. Dia sering memijat bagian antara ibu jari dan jari telunjuk sembari mengucapkan kata-kata seperti, "Ayo Tanti, ingat kamu harus fokus pada pekerjaan".
Tanti mengingatkan bahwa hal tersebut harus dilakukan terus-menerus agar berjalan efektif. Cara yang dia pakai tidak bersifat kaku. Masing-masing orang bisa mencari cara yang dianggap paling nyaman dan tidak mencolok perhatian orang lain. "Ada juga yang menginjak jari kaki sambil mengucapkan kata-kata untuk mengingatkan diri sendiri," katanya.
Jumat, 12 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar