Depresi pada umumnya dapat terjadi pada siapa saja. Namun tahukah anda, jika wanita lebih sering mengalami depresi dari pada pria. Wanita bahkan mempunyai risiko dua kali lipat dibandingkan pria untuk mengalami gangguan depresi di dalam hidupnya.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Andri,Sp.KJ, Psikiater dari Klinik Psikosomatik RS Omni Internasional Alam Sutera, kepada Republika Online, Selasa, 3 Februari. Faktornya bisa genetik dan sosial. Secara psikososial wanita lebih banyak mengalami tekanan psikososial dibandingkan dengan pria.
Berdasar statistik pasien yang dijumpainya, ia mengatakan wanita yang mengalami depresi cenderung mengalami kecemasan, perasaan bersalah, gangguan makan (meningkat atau menurun) dan kenaikan berat badan.
Lebih lanjut Andri menjelaskan faktor risiko depresi pada wanita antara lain riwayat gangguan perasaan di keluarga, gangguan perasaan di masa lampau, dan pada masa awal usia reproduksi.
"Kondisi seperti kehilangan orangtua sebelum usia 10 tahun, riwayat kekerasan fisik dan seksual saat kecil dapat menjadi penyabab depresi pada wanita," papar Andri.
Selain itu penggunaan kontrasepsi oral/pil KB dengan kandungan progesterone yang tinggi, penggunaan steroid gonadal sebagai terapi infertilitas, stressor psikososial yang terus menerus juga bisa menyebabkan wanita mengalami depresi yang lebih berat dibandingkan pria.
"Kehilangan dukungan psikososial dari keluarga dan masyarakat juga salah satu pemicu depresi yang dialami wanita," ungkap Andri.
Dalam suatu penelitian di Hongkong, menurut penuturan Andri, wanita Asia mengalami depresi dengan gejala seperti mood depresif, mudah menangis, kehilangan minat dan kesenangan, penarikan diri secara sosial, insomnia, tidak nafsu makan, kurang konsentrasi dan perasaan tidak berguna, hingga tidak mampu ditolong.
Selain itu juga sering terdapat gejala somatik seperti sakit kepala dan nyeri punggung. "Namun ada juga dari mereka yang memiliki dorongan untuk menyakiti diri, golongan ini berasio 15 persen," papar Andri. Untuk kasus bunuh diri akibat depresi, Andri mengatakan masih sangat jarang terjadi.
Sebagai penanganan depresi, Andri menjelaskan, ada beberapa cara, diantaranya dengan terapi non obat Aerobic, Makan karbohidrat kompleks, latihan relaksasi, pengaturan pola tidur, terapo kognitif, dan cara medis atau terapi obat seperti memberi antidepresan selective serotonin reuptake inhibitors ( SSRI) , mood stabilizer dan anticemas/antiinsomnia.
Sumber Republika Online
Jumat, 10 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar